Selamat Hari Jadi Ke-59 Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan

Membangun Kampung KB Menuju Daerah Yang Lebih Maju dan Mandiri

Peningkatan Kualitas Hidup Ibu Untuk Bangsa Yang Lebih Baik

HomeArtikelPeningkatan Kualitas Hidup Ibu Untuk Bangsa Yang Lebih Baik

Peningkatan Kualitas Hidup Ibu

Peningkatan Kualitas Hidup Ibu Untuk Bangsa Yang Lebih Baik

I.    Pendahuluan

Hasil Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012 menggambarkan masih tingginya Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia bila dibandingan dengan negara-negara di Asia yaitu sebesar 359 per 100.000 Kelahiran Hidup (KH). Penyebab tingginya AKI ini paling banyak disebabkan karena adanya pendarahan, eklampsia dan infeksi dan juga adanya  penyebab tidak langsung yaitu (Kemenkes, 2013).  Upaya penurunan AKI tersebut telah diupayakan oleh sektor terkait dalam upaya segera tindakan penanganannya utamanya oleh Kementerian Kesehatan, Kementerian Perberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dan BKKBN.  Hal ini  dilatar belakangi adanya Amandemen UUD 1945 yang menyebutkan bahwa “setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat, serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan” (UUD 1945, Pasal 28 H Ayat 1).
Upaya penurunan AKI ini semakin dipertegas karena mendekati tahun 2015 sebagai tahun patokan penilaian tujuan pembangunan millenium (Millenium Development Goals) nomor 5 yaitu ditargetkan menurunkan AKI menjadi 102 per 100.000 KH.   Hal ini sejalan dengan tema peringatan hari Ibu ke-86 tahun 2014 bertema “Kesetaraan Perempuan dan Laki-laki dalam Mewujudkan Pembangunan yang Berkelanjutan dan Berkeadilan Menuju Indonesia Berdaulat, Mandiri dan Kepribadian” maka perlu adanya peningkatan kesetaraan dalam kepedulian peningkatan peranan perempuan dalam pembangunan.

II.    Kualitas Hidup Ibu Indonesia

Kualitas hidup perempuan Indonesia sebagai seorang ibu tergambar dari tiga faktor utama yaitu pendidikan, kesehatan dan peranan perempuan dalam pasar kerja. Permasalahan nasional saat ini yaitu masih tingginya tingkat kematian ibu dan anak serta tingginya tingkat kemiskinan, rendahnya kualitas proses dan hasil pendidikan serta kesetaraan gender, masih tingginya tingkat KDRT, serta menurunnya keintiman keluarga karena pengaruh perubahan zaman.  Dampak dari kompleksnya permasalahan kualitas perempuan tercakup sebagai salah satu faktor dalam Indeks Pembangunan Manusia (Human Development Index/HDI).  Di dalam HDI terdapat Gender Inequality Index (GII) yang menggambarkan derajat ketimpangan dalam pembangunan perempuan yang diukur dari rasio kematian melahirkan ibu (AKI), ASFR, porsi perempuan dalam parlemen, pendidikan dan tingkat partisipasi dalam lapangan kerja.  Bila dibandingkan dengan Cina dan Filipina, tingkat GII pada tahun 2011 di Indonesia masih lebih tinggi, yaitu 0,505 dengan rerata medium  GII sebesar 0,475 (UNDP, 2011).  Persentase tingkat pendidikan perempuan Indonesia juga masih rendah dibandingkan penduduk laki-laki, begitu juga dengan partisipasi perempuan di lapangan kerja perlu lebih ditingkatkan karena dengan proporsi jumlah penduduk Indonesia yang hampir berimbang antara laki-laki dan perempuan berdasarkan hasil Sensus Penduduk tahun 2010 oleh BPS.    Demikian pula dengan adanya kegiatan pemberdayaan perempuan dan peningkatan status perempuan termasuk mempersiapkan perempuan muda memasuki tahap reproduksi.
Jika kegiatan pemberdayaan perempuan melalui pendekatan pembangunan keluarga yang dimulai dari sejak merencanakan masa depan dan berwawasan kependudukan, maka diharapkan TFR akan dapat menurun sebagai akibat dari ASFR yang juga menurun, peningkatan kesempatan perempuan untuk bekerja dan berkarir meningkat yang menjadikan keluarga Indonesia semakin sejahtera.  .  Para ahli kependudukan juga menyatakan, terdapat 4 prasyarat yang harus dipenuhi untuk mensukseskan bonus demografi, yaitu: penduduk harus berkualitas, penduduk usia produktif harus terserap dalam pasar kerja, meningkatnya tabungan di tingkat rumahtangga serta meningkatnya perempuan yang masuk dalam pasar kerja.
BKKBN telah lama mengupayakan peningkatan derajat kualitas kehidupan ibu melalui program KKBPK yang diwujudkan dengan pendekatan 4 Terlalu dan 3 Terlambat.  Hal ini semakin dipertegas pelaksanaannya di era Jaminan Kesejahteraan Nasional (JKN) yang merupakan perwujudan nyata pasal 34 UUD 1945 Ayat 2 yang menyebutkan bahwa “Negara mengembangkan sistem jaminan sosial bagi seluruh rakyat…”.  Terlepas dari berbagai berita negatif mengenai pelaksanaan BPJS sebagai perwujudan JKN ini, maka hendaknya upaya peningkatan pelayanan dapat diapresiasi sebagai perwujudan nyata kepedulian pemerintah terhadap peningkatan derajat kualitas kehidupan manusia Indonesia, khususnya perempuan sebagai seorang ibu.  Membangun kehidupan keluarga yang semakin baik dan maju memiliki korelasi dengan memecahkan masalah dan usaha memajukan kehidupan bangsa. Kehidupan bangsa Indonesia saat ini diakui mengalami banyak kemajuan seperti dalam pertumbuhan ekonomi, ilmu pengetahuan, teknologi, dan lain-lain. Namun pada saat yang bersamaan juga menghadapi masalah seperti erosi nilai-nilai kebangsaan, kekerasan, dan krisis moral. Karenanya diperlukan penyelamatan bangsa dengan memperkuat nilai-nilai luhur bangsa melalui peningkatan pendidikan dan derajat kesehatan ibu. Penyelamatan bangsa melalui penyelamatan kehidupan ibu guna peningkatan kualitas keluarga memiliki fungsi untuk memecahkan masalah-masalah dan memproyeksikan kehidupan bangsa terutama yang berkaitan dengan pembangunan karakter atau mentalitas sebagai modal ruhaniah yang strategis di tengah persaingan dengan bangsa-bangsa lain.

III.    Penutup

Upaya menyelamatkan kehidupan ibu dan meningkatkan kualitasnya karena ibu merupakan basis kekuatan bangsa, karena pertama dari ibu akan lahir keluargayang akan membentuk struktur kekerabatan  Selanjutnya keluarga yang kokoh akan membentuk ikatan bermasyarakat dan berbangsa.yang kuat yang dibangun di atas solidaritas kolektif yang di dalamnya terkandung jiwa, pikiran, dan cita-cita senasib seperjuangan.  Kedua, melalui ibu maka akan terbangun keluaga sebagai basis pendidikan dini tempat internalisasi dan sosialisasi nilai paling awal yang mengenalkan anak-anak bangsa tahu mana yang benar dan salah, yang baik dan buruk, serta yang pantas dan tidak pantas sebagai bagian penting dari nilai-nilai keadaban. Ketiga, ibu merupakan tiang penyangga perubahan di mana bangun dan runtuhnya kehidupan masyarakat dan bangsa dari segala tantangan dan ancaman luar seperti globalisasi dengan segala masalahnya akan sangat tergantung pada kualitas keluarga sebagai unit paling penting ini. Maka kuat atau lemahnya bangsa sangat ditentukan oleh kualitas kehidupan perempuan sebagai seorang ibu.
Anindita DS, S.Psi, MSR
Widyaiswara BKKBN Pusat